Good Neighbor Policy Franklin D


Good Neighbor Policy Franklin D. Roosevelt terhadap Amerika Latin
(Franklin D. Roosevelt’s Good Neighbor Policy Towards Latin America)
Niken Modesta
NIM 160910101046
Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Jember
Jalan Kalimantan No. 37, Kampus Tegalboto, Jember, Jawa Timur, 68121, Indonesia
Abstrak: Karya ini membahas tentang kebijakan luar negeri ‘Good Neighbor Policy’ Amerika Serikat pada masa pemerintahan Franklin D. Roosevelt melalui perspektif Realist. Sebelum adanya Good Neighbor Policy, hubungan antara Amerika Serikat dengan Amerika Latin dapat dikatan sangat buruk. Buruknya hubungan tersebut disebabkan oleh aksi Amerika yang sewenang-wena di Amerika Latin. Namun setelah adanya kebijakan non-intervensi dari Hoover, hubungan antara Amerika Serikat dengan Amerika Latin mulai membaik meskipun tidak terlalu berpengaruh. Setelah dicetuskannya ide mengenai Good Neighbor oleh Franklin D. Roosevelt, hubungan antara Amerika dengan Amerika Latin semakin membaik. Meskipun telah membeberkan komitmennya untuk melakukan Good Neighbor Polic, kebijakan Roosevelt masih tidak konsisten. Roosevelt beberap kali melakukan pelanggaran terhadap Good Neighbor Policy di Amerika Latin. Ia beberapa kali melakukan intervensi dan melakukan penekanan terhadap beberapa negara di Amerika Latin. Meskipun begitu, Roosevelt tetap berusaha untuk mengimplementasikan Good Neighbor Policy di Amerika Latin melalui beberapa tindakannya, yaitu pencabutan Platt Amandemen dan pencabutan perjanjian yang memungkinkan Amerika Serikat untuk melakukan intervensi di Haiti. Namun, pada Perang Dunia ke Dua kebijakan Amerika yang menitikberatkan pada Amerika Latin berubah menjadi ‘European First’.
Abstact: This paper discusses United States’s Good Neighbor Policy during Franklin D. Roosevelt’s reign through Realist perspective. Prior to the Good Neighbor Policy, relations between the United States and Latin America was bad. The bad relationships are caused by America’s arbitrary action in Latin America. But after Hoover’s non-intervention policy, the relationship between the United States and Latin America began to improve although during this time Hoover’s policy didn’t have enough influence. After the idea of ??Good Neighbor by Franklin D. Roosevelt, the relationship between America and Latin America has improved. Despite his commitment to do Good Neighbor Policy, Roosevelt’s policy is still inconsistent. Roosevelt has several times violated Good Neighbor Policy in Latin America. He intervened several times and placed emphasis on several countries in Latin America. Nevertheless, Roosevelt strives to implement Good Neighbor Policy in Latin America through its actions, namely the revocation of the Amendment Platt and the lifting of a treaty that allows the United States to intervene in Haiti. However there were some change in the Second World War, American policies that focused on Latin America turned into the ‘European First’.
Pendahuluan
Pasca Perang Dunia Pertama, Amerika Serikat muncul menjadi kekuatan besar di seluruh wilayah Karibia tidak tertandingi oleh negara Eropa atau Asia manapun. Setelah menolak keanggotaan di League of Nation, Amerika Serikat bebas dari kewajiban-kewajiban yang bersifat moralitas dari organisasi tersebut. Sebagian besar negara bagian di wilayah Karibia telah mengalami pendudukan dan penyerangan oleh Amerika Serikat. Antara tahun 1898 hingga 1920, Marinir Amerika Serikat atau tentara memasuki wilayah negara bagian di wilayah Karibia. Hal ini disebabkan karena adanya kekacauan di wilayah Karibia sehingga diperlukan sebuah intervensi (Wood, 1961). Intervensi semacam itu oleh Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara lain dianggap sebagai hak hukum di bawah hukum internasional sehingga mengharuskan negara-negara Amerika Latin menerima arbitrasi dari negara-negara lain sebagai penyelesaiannya. Hingga akhir tahun 1924, para Marinir mendarat di Honduras untuk melindungi “Menteri Amerika dan koloni Amerika” karena adanya suatu kondisi anarki yang kian berkembang di sana.
Pada tahun 1927, Amerika Serikat melakukan intervensi di Nikaragua. Intervensi tersebut menimbulkan sebuah trauma bagi Mexico. Hal inilah yang memberikan dasar dalam kebijakan non-intervensi oleh pemerintahan Coolide, Hoover, serta Roosevelt. Mereka membutuhkan prinsip tindakan baru, karena Doktrin Monroe adalah panduan dan justifikasi hanya ketika ada ancaman dari luar negeri. Maka dari itu, mereka kemudian membuat sebuah kebijakan yaitu Good Neighbor Policy atau Kebijakan Tetangga yang Baik.

Realist: Kebijakan Pemerintahan Good Neighbor Policy Franklin D. Roosevelt Terhadap Amerika Latin
Kebijakan ‘Good Neighbor Policy’ Amerika Serikat masa pemerintahan Roosevelt dapat dikatan sebagai sebuah Kebijakan Luar Negeri Amerika yang Realist. Kebijakan Realist Luar Negeri Amerika sendiri adalah sebuah kebijakan luar negeri Amerika yang lebih dipandu oleh pertimbangan praktis daripada visi ideologis. Realis tidak ingin pilihan kebijakan AS terlalu dibatasi oleh opini dunia atau pertimbangan etis. Hal ini dibuktikan dengan sikap Roosevelt yang seringkali berubah-ubah terhadap Amerika Latin. Di satu sisi, Amerika melakukan perbaikan hubungan dengan negara-negara Amerika Latin, namun di sisi lain apabila kepentingannya terancam, Amerika tetap melakukan intervensi dan kebijakan-kebijakan lain yang dapat menekan negara-negara Amerika Latin agar tunduk pada Amerika. Meskipun mendapat kecaman, Amerika tetap melakukan intervensi di Kuba dan melakukan blokade ekonomi di Argentina. Para Realist percaya bahwa kekuatan yang dimiliki oleh Amerika Serikat memiliki peran yang sangat penting bagi kesuksesan dari diplomasi Amerika, dan sebaliknya, kesuksesan diplomasi Amerika dapat menambah kekuatan Amerika. Hal ini terbukti dengan Amerika yang berusaha untuk menjalin sebuah hubungan yang baik dengan Amerika Latin demi melindungi kepentingan Amerika di Amerika Latin melalui kebijakan Good Neighbor Policy Amerika. Realis percaya aliansi yang kuat merupakan hal penting bagi terwujudnya kepentingan Amerika Serikat. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat selalu mencari dan mengutamakan aliansi yang kuat. Hal ini terbukti dari perubahan haluan dari tingkatan kepentingan Amerika pada masa Perang Dunia ke Dua yang semula menomor satukan Amerika Latin menjadi ‘European First’. Para Realist Amerika selalu mempertimbangkan political cost dari setiap tindakan yang diambilnya. Hal ini tercermin dari tindakan Roosevelt yang mengesampingkan tindakan militer dalam mengatasi krisis nasionalisasi minyak di Texas. Roosevelt takut akan dampak politik dari tindakannya apabila ia menggunakan intervensi bersenjata di Mexico. Realis percaya intervensi asing harus didikte oleh kepentingan nasional yang kuat.
Studi Kasus
1. Kebijakan Non-Intervensi pada Masa Hoover
Selama pemerintahan kepresidenannya dari 1929 hingga 1933 Hoover benar-benar bertujuan untuk menerapkan kebijakan perdamaian terhadap negara-negara Amerika Latin. Pada tahun 1930, Amerika melakukan publikasi ‘Memorandum Clark’. Memorandum tersebut menggambarkan perubahan pemikiran dalam kebijakan Amerika terhadap Amerika Latin. Kebijakan intervensi tidak hanya dianggap merusak citra Amerika dan kontra-produktif terhadap kepentingan nasional Amerika tetapi juga sekarang menyatakan bahwa intervensi bersenjata yang dilakukan di wilayah Amerika Tengah-Karibia di bawah Roosevelt Corollary bukan merupakan prinsip dalam Monroe Doctrine’. Hoover kemudian mengimplementasikan pemikiran ini ke dalam tindakan dengan mengumumkan secara publik jadwal untuk penarikan bertahap semua marinir Amerika yang akan diselesaikan di Nikaragua pada Januari 1933 dan di Haiti pada Desember 1934.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dunia mengalami kekacauan ekonomi dan politik, hal ini di beberapa negara menimbulkan peristiwa penggulingan rezim lama. Pada tanggal 6 September, kudeta militer di Argentina memaksa pengunduran diri Presiden Hipólito Irigoyen. Pemerintahan Brasil, pada tanggal 3 Oktober, berhasil digulingkan oleh kaum revolusionis Getúlio Dornelles Vargas. Di wilayah Amerika Tengah-Karibia, kudeta militer terjadi di Guatemala pada 16 Desember dan sebuah pemerintahan baru berkuasa di Panama pada 2 Januari 1931.Penggulingan rezim-rezim lama, yang notabene-nya adalah mitra Amerika di Amerika Latin tentu saja menimbulkan keterkejutan dan ketidaksiapan oleh pihak pemerintahan Hoover. Meskipun demikian, pergantian rezim-rezim tersebut dipandang tidak benar-benar menjadi ancaman langsung terhadap keamanan nasional Amerika Serikat (Smith, 2005). Maka dari itu, pihak Amerika Serikat tidak melakukan intervensi militer ke Amerika Latin, seperti yang dilakukan oleh Amerika sebelum adanya Good Neighbor Policy tahap awal atau yang sering disebut dengan masa “penolakan dominasi” (Wood, 1961).

Terlepas dari niat baik Hoover untuk tidak melakukan intervensi dan menjalin hubungan baik di Amerika Latin, pemerintahannya tidak menyaksikan peningkatan nyata dalam hubungan atau pemahaman antara Amerika Serikat dengan Amerika Latin. Faktanya, jumlah kontak antara Amerika Serikat-Amerika Latin dapat dibilang berkurang karena hubungan ekonomi antara Amerika Latin dan Amerika Serikat dirugikan oleh depresi (Smith, 2005). Dari 1929 hingga 1933, ekspor Amerika ke wilayah itu turun nilainya hingga lebih dari 75 persen, sementara impor menurun hingga 68 persen. Selain itu, Amerika Serikat muncul dengan jelas tidak bersimpatik terhadap penderitaan ekonomi para eksportir Amerika Latin karena alasan politik domestik mendikte pemeliharaan sikap proteksionis yang dilambangkan oleh bagian dalam Kongres AS tentang Tarif Smoot-Hawley pada tahun 1930. Sementara Start of Great Depression berkontribusi terhadap ketidakpastian diplomatik dan merusak hubungan antara Amerika Serikat-Amerika Latin, juga menandai titik balik sejarah yang pasti bagi Amerika Serikat. Ini terjadi pada tahun 1932 ketika kekalahan elektoral Herbert Hoover yang mengakhiri kontrol Partai Republik terhadap Gedung Putih dan membuka jalan bagi ‘Perjanjian Baru’ Franklin D. Roosevelt.2. Good Neighbor Policy pada Masa Franklin D. Roosevelt
Pada saat Roosevelt pertama kali diangkat menjadi presiden Amerika Serikat, orang-orang Amerika Latin khawatir tentang pilihan ‘Roosevelt’ sebagai kandidat Demokrat dalam pemilihan presiden 1932 karena nama ‘Roosevelt’ secara tegas dikaitkan dengan kebijakan agresif Big Stick (Theodore Roosevelt). Tidak seperti sepupunya Theodore, bagaimanapun, Franklin D. Roosevelt mengumumkan keinginan untuk melakukan tindakan simpatik terhadap negara-negara Amerika Latin. Sebagai presiden, pada dasarnya ia meneruskan kebijakan damai Hoover meskipun sekarang memperoleh nama baru dan segar sebagai hasil dari bagian yang diambil dari pidato pengukuhan Roosevelt tertanggal 4 Maret 1933: ‘Di bidang kebijakan dunia, saya akan mendedikasikan bangsa ini pada kebijakan dari tetangga yang baik – tetangga yang dengan tegas menghargai dirinya sendiri dan, karena dia melakukannya, menghormati hak orang lain (Smith, 2005). Meskipun tidak pernah secara tepat didefinisikan, konsep ‘Good Neighbor’ menarik dalam istilah hubungan publik eksternal karena menyiratkan kesetaraan dan saling menghormati antar negara. Itu akan diterapkan oleh Roosevelt tidak seperti yang awalnya dia duga, yaitu untuk memasukkan seluruh dunia tetapi secara khusus ke negara-negara Belahan Barat. Akibatnya, Roosevelt dianggap sebagai pencetus apa yang kemudian dikenal sebagai ‘Good Neighbor Policy’.

Namun dalam beberapa bulan pertamanya di kepresidenan, Roosevelt telah melakukuan pelanggaran dalam Good Neighbor Policy-nya. Di bawah Platt Amandemen, Roosevelt melakukan intervensi penekanan politik terhadap pemerintah Ramón Grau San dan intervensi bersenjata secara tidak langsung pada krisis di Kuba untuk memulihkan pemerintahan konstitusional Kuba pasca terangkatnya Ramón Grau San dan jatuhnya rezim Presiden Gerardo Machado. Intervensi Amerika pada krisis Kuba tersebut disebabkan karena adanya kecurigaan Duta Besar Sumner Welles terhadap kecenderungan ideologis Grau yang radikal dan menunjukkan bahaya pengaruh “Komunis” di bidang keamanan nasional yang vital dan kepentingan ekonomi bagi Amerika Serikat.
Intervensi bersenjata secara tidak langsung yang dilakukan oleh Amerika di Kuba adalah dengan mengirim sejumlah kecil kapal perang untuk mematroli perairan Kuba dan untuk menyediakan kekuatan militer, namun Roosevelt tidak memerintahkan pendaratan marinir. Roosevelt tidak akan memberikan pengakuan diplomatik kepada Kuba selama Kuba masih diperintah oleh Ramón Grau San Martín. Pemerintah Ramón Grau San Martín menganjurkan nasionalisasi perkebunan gula, upah yang lebih tinggi dan perbaikan dalam kondisi kerja. Grau menjabat sebagai pemimpin Kuba selama beberapa bulan hingga terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Kolonel Fulgencio Batista y Zalvídar yang memaksa perubahan rezim pada Januari 1934.
Setelah mendapatkan banyak kecaman dari domestik Amerika Serikat atas Platt Amandemen, pada Mei 1934 Roosevelt membatalkan Platt Amandemen. Oleh karena itu Amerika Serikat menyerah atas haknya untuk campur tangan dalam urusan Kuba, meskipun masih mempertahankan kepemilikan atas pangkalan angkatan laut Guantanamo. Tak hanya membatalkan Platt Amandemen, Roosevelt juga mengakhiri perjanjian yang memungkinkan Amerika untuk campur tangan di Haiti.
Pada 1930, Amerika mendapatkan ancaman persaingan ekonomi dari Jerman, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya. Maka dari itu Amerika melakukan suatu hubungan perdagangan yang baik dengan Amerika Latin, dimulai dengan Kuba pada bulan Agustus 1934, regulasi timbal balik bilateral disepakati dengan sebelas negara Amerika Latin pada tahun 1939. Perdagangan juga diperluas oleh penciptaan pada Februari 1934 dari Ekspor-Impor Bank untuk menyediakan negara-negara asing dengan kredit dolar untuk pembelian impor dari Amerika Serikat. Selain itu, bank memberikan pinjaman untuk pengembangan industri dan dengan demikian berfungsi sebagai alat diplomasi Amerika yang berguna. Meskipun pangsa perdagangan ekspor Amerika Latin benar-benar menurun sedikit dari 33 persen pada 1930 menjadi hanya lebih dari 31 persen pada tahun 1938, Amerika Serikat tetap menjadi pasar tunggal terbesar untuk barang-barang Amerika Latin. Faktanya, kebijakan timbal-balik sangat berhasil karena negara-negara yang menandatangani perjanjian perdagangan menjadi lebih bergantung secara ekonomi dari sebelumnya di pasar Amerika untuk pertumbuhan ekspor mereka.Dalam upayanya untuk mempromosikan ‘Kebijakan Tetangga Baik’ dan untuk melawan pengaruh fasisme yang semakin besar selama tahun 1930-an, Roosevelt berusaha untuk memoderasi ketegangan yang ada dengan negara-negara Amerika Latin. Pengadopsian kebijakan konsiliatif terutama dicontohkan oleh sikap Roosevelt terhadap permasalahan nasionalisasi minyak di Meksiko. Mengingat kepekaan Amerika Latin atas masalah intervensi Amerika dalam urusan internal mereka, Roosevelt mengesampingkan penggunaan kekuatan militer dan tidak mengikuti tindakan Britania Raya, yang perusahaan-perusahaan minyaknya juga terpengaruh, dalam memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah Meksiko. Tetapi pembalasan ekonomi diadopsi dalam bentuk boikot minyak dan penangguhan pembelian bulanan perak Meksiko yang dibuat oleh Departemen Keuangan AS. Sanksi diberlakukan dengan setengah hati dan tidak berhasil terutama karena Roosevelt secara pribadi tidak bersimpati kepada perusahaan-perusahaan minyak sebagian karena apa yang dia yakini sebagai klaim yang mereka kembangkan untuk calon aset masa depan. Dia juga dipengaruhi oleh pandangan duta besar Amerika di Meksiko, Josephus Daniels, yang menyatakan keprihatinan tentang mempertahankan niat baik Amerika Latin dan berharap untuk menghindari kerusakan citra negaranya sebagai tetangga yang baik. Pada awal krisis, Daniels menyarankan bahwa ‘setiap langkah yang mungkin harus diambil untuk mencegah terancamnya pemutusan hubungan antara kedua negara’. Selain itu, ada kecemasan bahwa perselisihan mendorong kemajuan pengaruh fasis di Meksiko dan implikasinya di seluruh Amerika Latin. Ketika Amerika Serikat menolak untuk membeli minyak Meksiko, Jerman dan Italia telah maju untuk menawarkan fasilitas pengiriman dan pasar alternatif.Keberhasilan Konferensi Havana, pada 1940, menunjukkan bahwa pengimplementasian ‘Good Neighbor Policy’ dan terutama presentasi sukses Roosevelt dari kebijakan tersebut telah berkontribusi pada peningkatan yang berbeda dalam hubungan antar-Amerika. Akibatnya sebagian besar negara Amerika Latin bergabung dengan Amerika Serikat dalam mengatur perlawanan terhadap ancaman fasis yang diajukan oleh Jerman dan Italia baik sebelum dan selama Perang Dunia Kedua. Konferensi Havana bisa dibilang merupakan titik puncak kepentingan diplomatik Amerika di Amerika Latin karena terjadi pada saat para pemerintah Amerika menjadikan kawasan Amerika Latin sebagai sumber bahan baku, pangkalan militer penting, dan dukungan diplomatik yang utama terhadap kekuatan Poros Jerman, Italia dan Jepang. Namun, begitu Amerika Serikat memasuki perang pada bulan Desember 1941, tingkat kepentingan diplomatik Amerika bergeser tajam ke Eropa dan Asia sementara Amerika Latin pindah ke periphery. Begitu strategi ‘European First’ diadopsi, penyelenggaraan pertemuan konsultasi dan pembuatan kebijakan Pan-Amerika yang telah menjadi ciri periode pra-perang dianggap tidak perlu dan pengalihan sumber daya diplomatik.
Amerika Serikat memasuki perang pada bulan Desember 1941 sebagai akibat dari serangan kejutan Jepang pada armada Pasifik Amerika Serikat yang berbasis di Pearl Harbor. Konferensi Pan-Amerika untuk membahas langkah-langkah pertahanan belahan bumi umum segera dijadwalkan dan diadakan di Rio de Janeiro pada bulan Januari 1942. Tepat sebelum pertemuan di Rio, sembilan negara Amerika Tengah dan Karibia telah bergabung dengan Amerika Serikat dalam menyatakan perang melawan Jepang dan kemudian beberapa hari kemudian mengambil tindakan yang sama terhadap Jerman dan Italia. Berbeda dari ke sembilan negara Amerika Latin, Argentina merasa waswas dengan diadakannya pertemuan di Rio de Janeiro pada bulan Januari 1942 tersebut. Pada Konferensi Rio sendiri delegasi Argentina semakin membuat marah Amerika Serikat karena penolakannya untuk menyetujui resolusi bulat yang mengharuskan pemutusan segera hubungan dengan kekuatan Axis
Menanggapi sikap Argentina yang seperti itu, Amerika memutuskan untuk melakukan tekanan-tekanan politik dan ekonomi terhadap Argentina. Roosevelt tidak mengakui pemerintahan Argentina dan terus meningkatkan tekanan ekonominya di Argentina. Pengisolasian terhadap Argentina mendapat dukungan dari negara-negara Amerika Latin lainnya, namun negara-negara Amerika Latin menolak adanya tekanan ekonomi terhadap Argentina karena dianggap terlalu agresif. Hal tersebut terus berlanjut hingga pada bulan Maret 1945, pada saat kekuatan Poros menghadapi kekalahan militer, Argentina akhirnya menyatakan perang terhadap Jerman dan Jepang. Pengakuan diplomatik Amerika sepatutnya diikuti pada bulan April.Selama Perang Dunia ke Dua, agen dari Biro Investigasi Federal (FBI) dikirim ke Amerika Latin untuk membantu pemerintah dalam mengidentifikasi agen dan simpatisan lokal Axis dan membatasi kegiatan mereka. Peristiwa inilah yang akan mengawali operasi rahasia Amerika di masa depan, pada akhir perang ada 360 agen FBI di Amerika Latin sering melakukan investigasi independen daripada berkolaborasi dengan pejabat pemerintah setempat. Penegakan Daftar Hitam, terutama penyerahan ratusan warga Jerman untuk penaklukan masa perang di Amerika Serikat, sering menimbulkan kebencian di Amerika Latin. Praktek ini dikritik sebagai campur tangan yang tidak beralasan dalam urusan domestik dan bertentangan dengan kebijakan ‘Tetangga yang Baik’.Pemerintahan Roosevelt juga bertekad untuk mengurangi pengaruh Jerman dan Italia atas militer Amerika Latin. Upaya sadar dilakukan untuk membujuk pemerintah Amerika Latin untuk mengganti semua misi militer yang ada dari kekuatan Poros dengan para penasihat dari Amerika Serikat. Pada tahun 1938, misi militer Amerika hanya ditugaskan di lima negara Amerika Latin. Pada bulan Desember 1941, penasihat Amerika secara resmi terikat dengan militer di setiap negara Amerika Latin. Selama perang, Amerika Serikat juga diizinkan membangun pangkalan angkatan udara dan angkatan laut terutama di Brasil, Meksiko, dan Ekuador, untuk digunakan dalam kontingensi invasi Poros. Sebagai imbalannya, pemerintah Amerika Latin menerima keuntungan ekonomi yang besar.Daftar Pustaka
Smith, Joseph. 2005. The United States and Latin America: A History of America Diplomacy, 1776-2000. Routledge.

Wood, Bryce. 1961. The Making of the Good Neighbor Policy. Norton Library

x

Hi!
I'm Crystal!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out